Bekasi Barat – Proyek peningkatan saluran drainase di Jl. Pemuda Patriot, Bekasi Barat, yang menelan anggaran Rp 1.743.754.270,00, kini menuai sorotan serius. Proyek milik Pemerintah Kota Bekasi – Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air tersebut didanai dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan waktu pelaksanaan 150 hari kalender.
Berdasarkan papan proyek, pekerjaan ini dilaksanakan oleh:
Penyedia: CV. Pagincia Segoro Arto
No. Kontrak/SPK: 620.01/06.0024.9/SP/DBMSDA-SDA/2026/62040293
Program: Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Drainase
Sub Kegiatan: Peningkatan Sistem Drainase Perkotaan
Judul Pekerjaan: Peningkatan Saluran Jl. Pemuda Patriot
Namun fakta di lapangan justru memunculkan pertanyaan besar soal mutu pekerjaan.
Dipasang Tanpa Lantai Kerja
Dari dokumentasi yang dihimpun, pemasangan U-Ditch diduga dilakukan tanpa lantai kerja (bedding) yang memadai. Padahal, lantai kerja berfungsi sebagai fondasi dasar untuk menjaga kestabilan dan elevasi saluran.
Tanpa lantai dasar yang solid dan rata, risiko pergeseran, penurunan, hingga retak struktural menjadi terbuka lebar. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi membuat saluran tidak presisi dan mengganggu aliran air.
Pemasangan Saat Air Menggenang
Yang lebih memprihatinkan, pemasangan U-Ditch dilakukan saat air masih menggenang di dasar galian. Tidak terlihat adanya proses pemompaan atau pengeringan sebelum elemen pracetak diturunkan.
Pemasangan dalam kondisi basah seperti itu berisiko terhadap:
Ketidakrataan elevasi,
Penurunan struktur akibat tanah lembek,
Kualitas sambungan antar elemen yang tidak maksimal.
Ditimbun Pakai Puing Bekas Galian
Temuan lain yang menjadi sorotan adalah penggunaan puing bekas galian untuk menutup sisi U-Ditch. Material tersebut tampak bercampur tanah dan batuan tidak seragam.
Dalam praktik konstruksi yang baik, penimbunan seharusnya menggunakan material pilihan dan dilakukan pemadatan bertahap. Jika tidak, potensi ambles dan retak pada bahu saluran hanya tinggal menunggu waktu.
Rangga: “Ini Uang Rakyat, Bukan Proyek Coba-Coba”
Fari Rangga, aktivis lingkungan, menyampaikan kritik keras terhadap metode pekerjaan tersebut.
“Kalau benar dipasang tanpa lantai dasar dan dalam kondisi air masih menggenang, itu kelalaian serius. Drainase dibangun untuk mengatasi air, bukan justru dipasang di atas air,” tegas Rangga sapaan akrabnya
Ia juga menyoroti penggunaan puing sebagai material urug.
“Menutup sisi U-Ditch dengan puing bekas galian tanpa pemadatan standar itu berisiko ambles. Ini anggaran hampir Rp1,8 miliar dari PAD. Uang rakyat, bukan proyek coba-coba,” ujarnya.
Rangga meminta pengawas lapangan dan pihak dinas untuk turun langsung mengevaluasi mutu pekerjaan.
“Kalau pengawasan berjalan ketat, hal-hal seperti ini seharusnya tidak lolos. Jangan sampai proyek drainase yang baru selesai beberapa bulan sudah bermasalah.” tutupnya
Masyarakat Menunggu Penjelasan
Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak penyedia maupun Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Bekasi terkait metode pelaksanaan tersebut.
Publik kini menunggu klarifikasi:
Apakah pekerjaan sudah sesuai spesifikasi teknis?
Apakah ada pengawasan yang memadai di lapangan?
Dan apakah kualitasnya sebanding dengan nilai kontrak Rp1,7 miliar?
Proyek drainase seharusnya menjadi solusi banjir, bukan sumber persoalan baru.
Berikan ulasan